BBM Langka Di Sanggau, Panic Buying itu Perlu



 

Kalau saja mentri tidak mengatakan cadangan minyak kita hanya mampu bertahan 20 hari, kemungkinan aman – aman saja SPBU sekarang. Tidak ada antrean gila – gilaan. Pernyataan itu lalu dibuatlah viral oleh media sosial. Jadilah, BBM langka. Ketakutan akan tidak kebagian minyak untuk kendaraan akhirnya melahirkan  panic buying di sebagian masyarakat.


Sampai tulisan saya ini terbit, respon penyelenggara negara maupun daerah biasa – biasa saja. Dan pernyataan  dari pejabat juga cukup membuat kita geleng – geleng kepala. Narasi yang disampaikan tak lebih penyataan klise, “kami pastikan, kami kawal,” padahal masyarakat ada yang sampai pingsan mengantre ratusan meter, berjam – jam lamanya.


Di Sanggau sendiri kejadian panjangnya antrean BBM di SPBU itu sudah terjadi pasca serangan Amerika ke Iran. Sumpah, masyarakat kita ini tidak juga bodoh – bodoh amat membaca masalah geopolitik dunia. Mulai bibi – bibi kantin, tukang bangunan, pemilik pertamini, supir MBG, para jomlo juga pastinya sudah membaca peta dunia. Kalau perang Iran ini berkelanjutan, dan ditutupnya selat Hormuz, maka BBM akan langka. Sampai satu hari sebelum lebaran, antrean sudah semakin menggila.


Ternyata di dunia juga ada kok berita – berita tentang keadaan panic buying ini, Korea Selatan, Australia, Inggris. Namun negara – negara maju tersebut tidak terlalu kentara terlihat di masyarakat lapisan bawahnya. Tidak seperti kita Indonesia, khususnya Sanggau, kendaraan umum mereka masih memberikan harapan, jika kendaraan pribadi tidak bisa dipakai karena kehabisan bahan bakar. Budaya menggunakan kendaraan umum juga cukup baik di luar negeri khususnya negara maju. Mereka tidak bergantung pada sepeda motor untuk melakukan mobilitas sehari – hari.


Di Indonesia, khususnya Sanggau. Manusia kita sudah ketergantungan dengan yang namanya kendaraan pribadi. Bukan salah. Tapi memang kondisi lapangan dan wilayah yang mengharuskan kita memiliki kendaraan pribadi. Mengharapkan kendaraan umum di wilayah kita ini sama saja dengan langkanya BBM saat ini. Sulit untuk diungkapkan. Medan yang jauh, kondisi infrastruktur jalan yang sangat tidak layak, ah mengungkapkannya saja saya tidak sanggup.


Jadi apakah salah kita sebagai masyarakat mengalami panic buying? Jadi perhatian seharusnya, tertipkan para penimbun, TANGKAP! Buat regulasi yang mengharuskan masyarakat cukup beli seadanya, setakarnya, seperlunya. Perkara stok yang memang kritis di pusat, oh itu masalah pusat. Kalau memang stok langka seperti kata mentri, tidak salah dong masyarakat panic buying?

Posting Komentar untuk "BBM Langka Di Sanggau, Panic Buying itu Perlu"