Membedah Tren Spanduk Viral Selingkuh, Katarsis Warga Sanggau
Siapa bilang tingkat literasi warga Sanggau itu rendah, buktinya beberapa hari kemarin ada warga yang berusaha menampilkan hasil ide kreatifnya berupa tulisan pendek pada sebuah spanduk sisi jalan. Memang terkadang ide tulisan itu akan muncul saat – saat ada momentum yang pas, ketika senang, sedih, hati yang terhimpit pilu, atau hati yang hancur karena diselingkuhin. Walaupun tidak sampai satu paragraf, atau membentuk sebuah fiksi mini, namun warga Sanggau yang satu ini benar – benar patut diapresiasi dalam membangun pondasi keliterasian warga Sanggau yang hampir meredup.
Entah
siapa yang memulai tren satu ini, tren membuat spanduk yang menampilkan wajah
pasangan dan/atau selingkuhannya. Dengan dibubuhi kata – kata bernuansa kritik
moral, jadilah sebuah spanduk kreatif buah tangan sang hati yang tersakiti, pas
sekali dipasang di sudut persimpangan jalan kota.
Bukan
hanya di Sanggau, di kota tetangga juga ternyata lebih dulu memulai tren
spanduk viral selingkuh ini. Pertanyaan saya yang jomlo akut ini, bahkan
merasakan sensasi diselingkuhin aja belum, hati kecil ku ini bertanya, mengapa,
apa alasan, orang – orang di luar sana yang merasa si paling diselingkuhin itu
melakukan tren seperti itu.
Balas
dendam
Kalau
saya lihat fenomena ini, seakan ada upaya korban untuk mengatakan bahwa, “tuk
deh ikau ngasa, satu kabupaten tau kalau ikau pelakor.” Dengan ukuran spanduk
yang besarnya sampai 3 meter itu, dan dengan tulisan – tulisan nyeleneh ala
sindiran ketua partai, dapat dipastikan
kalau motif utama korban adalah balas dendam.
Coba
kalian pikirkan, untuk mencetak spanduk
ukuran 1x3 meter itu bukanlah perkara yang murah di era bawang merah yang
sekarang mahal. Ibu – ibu macam apa yang mau membuat spanduk seharga 175 ribu
lalu mengorbankan uang belanja mingguan? Hah….? Ibu – ibu macam apa?! Jadi jelas, ini adalah balas dendam hati yang
tersakiti, hitung – hitung itu merupakan investasi emosi yang nyata. Daripada harus
menyewa pengacara yang mahal, mending ke percetakan.
Katarsis
Emosi
Bikin
malu aja dulu, urusan belakangan!
Setelah
dendam tersulut, maka poin selanjutnya bagaimana membuat si pelaku jera. Ini bukan
level jera biasa, kalau hanya curhat dengan besti durasi viralnya lambat, efek
mulut ke mulutnya ngak efektif. Ini zaman media sosial, viral itu akan
membentuk efek jera yang mendalam.
Rasa
puas melihat pelaku tidak berani keluar rumah adalah kepuasan tersendiri untuk
si korban. Ini bagian dari pelepasan emosi negatif yang terpendam. Daripada menangis,
lalu akhirnya bundir, kan ngak lucu. Makanya katarsis yang seperti ini saya
rasa juga sangat bijak untuk si korban,he.
Dampak
Sosial untuk warga Sanggau
Selama
ini poster – poster, spanduk yang terpasang di tepi jalan, entah itu himbauan
layanan masyarakat, iklan, spanduk ketua partai yang mukanya itu – itu melulu,
spanduk viral selingkuh sudah membentuk atmosfer baru di dunia perspanduk’an
jalanan. Ibarat dunia perfilman, spanduk selingkuh sudah melahirkan genre baru
yang lebih fres, lebih nyata dan tanpa bumbu janji – janji palsu.
Spanduk
selingkuh kalau dipasang di perempatan lampu merah sangat – sangat efektif. Sebab,
bisa mengurangi rasa bosan para pengendara yang lelah menunggu. Ini juga
sebagai bentuk upaya nyata membangun kebiasaan membaca masyarakat kita. Bayangkan
kalau korban rela membuat kalimat yang lebih runut mengenai jalan cerita
perselingkuhannya itu. Dijamin, pengendara akan semakin betah di lampu merah.
Akhir
tulisan ini saya ingin berpesan kepada para pelaku selingkuh, kalau mau
selingkuh pastikan pasanganmu ngak punya akses ke percetakan terdekat. Jadi lebih
aman aja, kalaupun ketahuan selingkuh paling habis di dalam rumah.haha
Dan
untuk korban yang diselingkuhooin nih, saya hanya berpesan kalau mau pasang spanduk
tolong cek izin pasang, sayang loh kalau spanduk seharga 150 ribu itu hanya
bertahan dua jam, eh tiba – tiba dicopot SATPOL PP, kan ngak efektif jadinya.
Semoga
saja ke depannya ngak ada lagi spanduk – spanduk viral selingkuh di Sanggau,
mungkin lebih banyak spanduk – spanduk layanan masyarakat, perda terbaru, atau data
tranparansi pendapatan dan pengeluaran daerah.
.png)
Posting Komentar untuk "Membedah Tren Spanduk Viral Selingkuh, Katarsis Warga Sanggau"