Ironi Bukit Macan yang Ngak Ada Macan – Macannya
Viral…
Bukit
Macan sudah tidak rindang lagi. Bukit Macan gundul, kawasan Bukit Macan digusur.
Seperti itulah
kira – kira beberapa narasi yang disampaikan kawan – kawan yang berusaha
menyuarakan tentang adanya dugaan aktifitas deforestasi.
Siapa
yang tidak marah dan kecewa ketika melihat kawasan hutan yang dulunya asri
kemudian berubah menjadi corak – corak batik tanah kosong yang gersang. Apalagi
kawasan tersebut merupakan kawasan yang memiliki potensi wisata yang patut dijaga
dan dilestarikan. Saya bukanlah pencinta alam sebagai mana kawan – kawan yang
suka berkunjung ke alam raya, namun setelah melihat kondisi alam yang sudah
mulai digerogoti oleh oknum pengusaha yang tak mengindahkan tentang keasrian bumi
Daranante ini, saya pun ikut marah dan kecewa.
Bukit
Macan seharusnya punya “macan”
Upaya
yang dilakukan kawan – kawan pencinta alam sudah benar. Berusaha memviralkan
kondisi yang memang sudah tidak patut untuk ditoleransi lagi. Namun, terkadang
upaya seperti ini hanyalah angin lalu oleh para penyelenggara daerah. Kita para
penikmat alam lelah berkoar – koar di media sosial, menghujat bahkan memaki
mereka pemangku kebijakan, hasilnya…@#$%$#
Bukit
Macan seharusnya punya Macan yang bisa menjaga, menyuarakan, memelihara
kawasannya. Kalau berharap dengan orang – orang yang berkunjung terkadang tidak
memiliki efek yang tajam. Viral akan tenggelam oleh algoritma, namun kalau di
dalam kawasan itu ada macan yang beringas, yang berani mengaum vokal, punya
taring tajam, kuku – kukunya kritis maka kawasan Bukit Macan akan bisa dijaga
dari dalam.
Harus
ada macan di sana. Macan yang bisa memimpin sebuah pergerakan, tidak harus
pergerakan yang ekstrem. Mulai aja dengan membangun sebuah komunitas pelindung
alam kawasan Bukit Macan. Buat pertemuan – pertemuan yang membahas konservasi
hutan, dialog pencinta alam dan sejenisnya.
Saya
takutnya, macan yang ada di Bukit Macan sekarang adalah macan ompong yang tidak
punya taring lagi. Macan yang tidak bisa mengaum oleh karena mulutnya tersumpal
daun – daun sawit perusahaan, atau lebih parahnya lagi tersumpal oleh uang. Kukunya
tidak bisa mencakar akibat terlalu manja, tidak suka berburu lagi karena memang
sudah diberi jatah. Macan yang seperti ini memang tidak patut untuk
dilestarikan, tidak patut masuk makhluk yang dilindungi. Sebab bagaimana mau
dilindungi, dirinya saja tidak melindungi habitatnya.
Sanggau
memang bukan kawasan wisata
Sanggau
memang bukan seperti Bali yang mengandalkan pariwisata sebagai sektor yang
memberikan income tertinggi untuk pendapatan daerahnya. Pendapatan daerah Bali
dari sektor pariwisata itu hampir 70 % dan merupakan tulang punggung pendapatan
daerahnya.
Sanggau
tentu tidak, karena kawasan geografis
kita tidak mendukung pariwisata sebagai income utama untuk pendapatan
daerah. Oleh karena itu penyelenggara daerah tidak terlalu ambisius dalam
memajukan objek – objek wisata yang ada di daerah kita. Alih – alih memajukan
kawasan wisata, penyelenggara daerah lebih memilih memberi izin perkebunan sawit
yang nyata – nyata lebih besar memberikan efek terhadap pendapatan daerah. Tidak
bisa dipungkiri, dari masyarakat secara individu sampai pemerintah daerah
secara kolektif lebih memilih perkebunan sawit yang lebih ekonomis dalam
memajukan perekonomian daerah.
Jadi
upaya memviralkan kondisi Bukit Macan yang sudah tidak asri lagi merupakan
jalan satu – satunya yang bisa dilakukan
oleh para kawan – kawan pencinta alam. Bukan bermaksud pesimis dengan fenomena
ini, namun di pusat saja, hal – hal yang berkaitan dengan alam tidak terlalu digubris
oleh penyelenggara negara.
.png)
Posting Komentar untuk "Ironi Bukit Macan yang Ngak Ada Macan – Macannya"