Mati Dulu Bayar Nanti, Membedah Tukang Tipu Warung Kelontong Di Pontianak yang Viral
Memakai
baju koko, berpeci hitam, dengan gestur gontai disertai raut wajah yang
dipasang semenyedihkan mungkin, seorang pria memasuki warung kelontong di sudut
kota Pontianak. Udara panas kota Pontianak tampaknya sangat mendukung raut
wajah suramnya yang dipenuhi keringat yang bercucuran.
Raut
wajah, keringat, gestur tergesa – gesa ala orang panik lupa cebok, pria ini
memulai aksinya. “Bu boleh minta berasnya 2 karung dulu, untuk acara kematian
paman saya di jalan A. Sekalian gula sama kopinya bu masing – masing 2 kilo.” Si
pemilik toko sigap melayani. Setelah itu tingkat aksinya yang paling menguji
andrenalin, “Bu saya bawa balik dulu ya, karena mau dipakai, lupa juga tadi
bawa uang titipan keluarga. Nanti saya balik lagi.”
Yah,
seperti itulah kira – kira kronologi yang nyaris gitu – gitu aja menimpa
beberapa korban toko kelontong di kota Pontianak. Kejadian ini sampai membuat
saya yang di Sanggau geram, muak, ingin sekali menSmackDown pelaku ini. Bukan tanpa
sebab, setiap kali melihat postingan Instagram yang berkaitan dengan Pontianak
Informasi selalu ada saja berita abang pelaku ini. Captionnya selalu bernuansa
sama, bang tipu beraksi lagi.
Oleh
karena saya tidak bisa menSmackdownnya dari Sanggau ini lantaran terlalu jauh,
saya harap tulisan saya bisa menstimulus warga Pontianak yang juga sudah geram
dengan pelaku ini.
Pasang
palang pintu pencak silat
Saya
rasa para pemilik toko kelontong di
Pontianak adalah orang – orang yang kelewat dermawan. Terlalu mudah diperdaya
hanya dengan modus “orang mati” sehingga beras, kopi, gula, minyak goreng raib
dibawa kabur. Setelah kejadian ini saya harap, para pemilik toko jangan lagi
terpedaya dengan modus seperti itu. Harus lebih jeli, kalau toh alasannya lupa
bawa uang, maka jangan ada barang yang dibawa.
Saya
rasa CCTV saja tidak cukup untuk menangkal manusia macam bang tipu ini. Buktinya
sudah berapa kali tertangkap CCTV namun, tak ada tindakan atau hasil dari
disebarkannya video viralnya tersebut. Harusnya toko – toko di Pontianak boleh
memperkerjakan seorang palang pintu di depan warungnya.
Selain
bisa menjaga keamanan, petugas palang pintu bisa mendeteksi dini, manusia
penipu seperti itu. Palang pintu punya caranya, sebelum belanja petugas palang
pintu bisa melemparkan pantun – pantun sebagai seleksi pengunjung,
Ke
warung membeli ketupat
Minum
es campur oli
Kamu
datang dengan hormat
Uang
dibawa barang dibeli
Nah,
dari pantun ini para palang pintu bisa mendeteksi apakah orang ini memang orang
tempatan atau orang dari wilayah lain, kita tahu warga Pontianak yang sebagaian
besar warganya bersuku Melayu pasti suka akan pantun memantun.
Kekeluargaan
warung kelontong sangat erat
Pelaku
sengaja memilih warung kelontong sebab rasa kekeluargaannya tinggi. Di daerah
kita budaya ambil dulu bayar nanti itu biasa, malu atau kaku untuk mengatakan
ngebon dulu. Celah inilah yang dimanfaatkan oleh pelaku untuk menjalankan
aksinya.
Setelah
membaca kebiasaan warga di Pontianak itu, pelaku menambahkan amunisi yang lebih
membiuskan, dengan kepiawaiannya pelaku berpura – pura dari keluarga yang
sedang berduka dan membutuhkan barang sembako untuk kebutuhan melayat, ditambah
lagi dompet yang ketinggalan.
Aksi
ini memang hanya bisa dipakai di warung kelontong, yang lebih santai, ngak ada
aturan resmi. Coba bayangkan abang tipu ini mencoba beraksi di Alfa atau Indo,
walhasil ngak bakalan berhasil. Baru sampai saja dia mulai deg – degan, harus
pilih cara membuka pintu toko apakah didorong atau ditarik. Belum lagi alasan
lupa bawa dompet, pasti dedek kasir yang imut akan menyarankan pakai kartu
kredit, bang tipu pasti lebih mumet. Jadi jelas, warung kelontong yang minim
protokol keselamatan menjadi sasaran
empuk untuk si pelaku ini.
Harus
diberi efek jera
Sekali
lagi saya yang orang Sanggau sangat kecewa, sebab sudah berapa kali suhu ini
melakukan aksinya namun, tak ada tindakan. Pelaku memang lihai memainkan hukum,
ia tahu kerugian warung sembako tentu tak seberapa, paling kurang lebih 500
rubuan saja, ini hanya masuk kategori Tipiring Tindak Pidana Ringan.
Saran
saya, tolong ya warga Pontianak. Kalau tidak mempan lagi dengan cara
diviralkan, setiap Rt di Pontianak harus memasang poster Bang Tipu ini. Hukum pemasangannya
sunnah muakkad kalau bisa, sangat – sangat dianjurkan. Kalau bisa buatkan
lengkap dengan berbagai bentuk kopiah, mulai kopiah hitam, putih, belangkon,
rambut cepak, panjang, mohak, ya mirip poster DPO teroris.
Kalau
sudah tertempel semua di warung kelontong di setiap Rt di kota Pontianak, saya
rasa celah pelaku sedikit terhambat.
Sebab
kalau hanya diviralkan di media sosial, dampaknya tidak terlalu, jangankan
penjahat sekelas bang tipu ini, penjahat berdasi saja setelah viral bisa senyum
– senyum. Tak peduli mukanya viral di mana – mana, yang penting dia bisa
beraksi. Jadi cara konvensional seperti menempelkan poster wajah pelaku di
warung – warung sangat – sangat efektif. Apalagi dibuat lagi tambahan dibawah
fotonya, “DPO RT, jangan dikasi gula, kasi aja warung LPG ke kepalanya!”
Untuk
warga Pontianak yang mempunyai warung kelontong, saya sarankan untuk lebih
berhati – hati. Jangan mudah percaya dengan modus anak sunatan, kucing kanker,
bapak vertigo, ibu bisulan. Harus lebih waspada, sebab kejahahatan bukan timbul
karena ada niat pelakunya, tapi juga karena ada barang yang ingin diambil,
hehe.
.png)
Posting Komentar untuk "Mati Dulu Bayar Nanti, Membedah Tukang Tipu Warung Kelontong Di Pontianak yang Viral"