Dak Kudak Pemimpin Sanggau yang Kabur



Apa yang membuat seorang pemimpin yang memegang kendali penuh atas rakyatnya memilih untuk melepaskan segalanya dan menghilang di tengah kegelapan? Kisah Dak Kudak bukanlah sekadar pelarian biasa, melainkan sebuah teka-teki sejarah yang masih menyisakan banyak tanya bagi warga Sanggau hingga hari ini.

Konon setelah menemukan sang pujaan hatinya, putri Dara Nante dan rombongan kembali pulang ke hilir menggunakan perahu bidar. Tampuk pemerintahan Sanggau diserahkan kepada seorang yang mungkin “dinilai” layak untuk memimpin Sanggau sepeninggalnya yang bernama Dak Kudak.

Mengapa Dara Nante memilih Dak Kudak?

Tidak ada yang tahu!

Namun, menurut opini saya, jika seseorang yang katakanlah pemimpin kemudian menyerahkan atau menitipkan tampuk kepemimpinannya atas suatu wilayah kepada seseorang, pastilah orang yang diberikan amanah itu adalah sosok yang dinilai cakap, memiliki kemampuan yang pantas sebagai seorang pemimpin wilayah.

Dari cerita sejarah kita bisa menebak, alasan putri Dara Nante memilih  Dak Kudak sebagai orang yang mengemban amanah kepemimpinan pasti ada penilaiannya, entah itu karena Dak Kudak memang tokoh adat, orang yang berwibawa di mata rakyat, atau seorang yang jenius.

Namun, sampai sekarang kita tidak tahu alasan mengapa putri Dara Nante menyerahkan kepemimpinan kepada Dak Kudak.

 

Apakah Dara Nante salah pilih orang?

 

Melanjutkan kisah – kisah cerita sejarah Sanggau, dalam buku karya Dr. Abang Ishar Ay, M.Sc disebutkan setelah diberikan tampuk kepemimpinan kepada Dak Kudak, ternyata sayang sekali Dak Kudak tidak mampu melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin Sanggau saat itu. Diuraikan juga bahwa Dak Kudak merasa banyak permasalahan yang datang bertubi – tubi, tidak putus – putusnya.

Disebutkan juga kalau Dak Kudak dimata  rakyat dinilai tidak mampu melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin. Saat menerima tamu sebagai adat penyajian pinangan yang kerapkali di pakai saat itu saja beliau tidak bisa. Saat itu memang urusan pinang meminang ditangani oleh Dak Kudak, dan itupun  tidak bisa dilaksanakannya.

Karena tidak mampu dengan masalah – masalah yang kian banyak dan rumit di bawah pemerintahannya, Dak Kudak pun akhirnya kabur ke daerah Semboja. Dan menurut bahasa Semboja berasal dari kata ‘Abu Koja’ artinya lari berjalan kaki saat malam hari.

Nah, dari cerita sejarah ini, apakah Dara Nante  dinilai salah memilih sosok untuk menggantikannya sebagai pemimpin Sanggau? Kalau dari pembahasan awal tadi rasanya tidak, pasti sang Purti punya penilaian atas penunjukan Dak Kudak sebagai penggantinya. Lalu pertanyaan yang selalu mengiang di kepala saya, masalah apa yang membuat Dak Kudak sampai lari ke Semboja? Tidak mungkin hanya karena tidak bisa meminang.

 

Kekosongan kepemimpinan

Kalau merujuk di portal resmi sanggau.go.id tentang sejarah Sanggau, dituliskan kalau Sanggau berdiri tahun 1310 oleh Dara Nante, kemudian Dak Kudak, lalu Dayang Mas Ratna ( 1485 ). Nah, pada pemerintahan Dak Kudak ini tidak ada menyantumkan tahun, ya mungkin karena beliau main kabur tadi kan. Nah selanjutnya setelah Dak Kudak lalu diteruskan  Dayang Mas Ratna yang  bertulis tahun 1485, kalau pemerintahan Dak Kudak katakanlah hanya bertahan 5 tahun kemudian beliau kabur, maka ada tahun kekosongan kepemimpinan di antara Dak Kudak dan Dayang Mas Ratna ini.

Lantas siapa yang mengisi kekosongan ini, apakah Sanggau dipimpin oleh orang yang ditunjuk oleh Dak Kudak, atau ada pemimpin lain?

 

 

 

 

 

 

 

Posting Komentar untuk " Dak Kudak Pemimpin Sanggau yang Kabur"