Ikan Sapu Sapu Adalah Mujahid, Pantas MUI Kritik Pemerintah Provinsi Jakarta
"Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat
ihsan (baik) dalam segala sesuatu. Maka jika kalian membunuh, bunuhlah dengan
cara yang baik. Jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan cara yang baik.
Hendaklah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan
sembelihannya."
Mengacu pada hadist di atas MUI merespon kegiatan yang dilakukan oleh
Pemerintah Provinsi Jakarta dalam memberantas perkembangan populasi ikan sapu –
sapu yang begitu masif di sungai – sungai daerah Jakarta. MUI mendukung penangkapan besar – besaran ini adalah bentuk
upaya melindungi ekosistem air sungai yang ada di Jakarta, namun pihak MUI
sedikit memberi masukan dalam hal pemusnahan yang dinilai tidak sesuai kaidah
agama.
Beberapa komentar yang saya lihat di media
sosial memang sangat beragam, beberapa netizen sampai berkomentar, “sejak kapan
ikan punya agama?” atau menghubungkan kasus – kasus yang bersinggungan dengan
MUI. Saya tidak mau ikut apa kata para netizen itu, ada hal yang lebih dalam
yang akan saya bahas, dari sudut pandang yang menarik.
MUI Menghargai Jihad Ikan Sapu – Sapu
Karena saya tidak mau mendebat MUI yang sesuai
agama dan netizen yang pro lingkungan sehat, maka saya berusaha mencari
informasi bagaimana ikan yang katanya berasal dari Amerika Selatan itu bisa melakukan
hijrah jauh – jauh ke Indonesia lebih tepatnya Jakarta lagi.
Akhirnya saya menemukan jawaban yang
kedengarannya sedikit masuk akal, dulunya memang ikan ini tidak ada di Indoensia,
karena memang asalnya dari Amerika Selatan. Kepopulerannya dalam membersihkan
akuarium menjadi alasan cikal bakal ikan ini dibeli atau hijrah ke Indonesia. Para
pencinta ikan hias sangat membutuhkan jasa ikan sapu – sapu dalam mengatasi
kebersihan akuarium. Alih – alih mereka membeli alat belasan juta untuk
mengecek kebersihan akuarium, akan lebih baik memelihara ikan sapu – sapu sebagai
pekerja alami.
Anggapan Liar Saya
Nah, masih membahas bagaimana ikan sapu – sapu itu
bisa hijrah ke kali – kali yang sangat jernih di Jakarta itu. Setelah dibeli
oleh para pencinta ikan hias di Jakarta sebagai pembersih alami akuarium, bisa
jadi pemilik pertama atau beberapa orang yang ada di Jakarta yang telah membeli
ikan sapu – sapu dari luar negeri itu prihatin dengan keadaan sungai –
sungai Jakarta yang terbilang tercemar itu.
Para pemilik ikan sapu – sapu ini sebenarnya adalah
orang – orang berjasa di Jakarta, Cuma mereka ngak dihargai dan diperhatikan. Awalnya
mereka memikirkan bagaimana keadaan kali – kali yang kumuh, termenung, sampai
akhirnya berpikir gila, “kenapa ngak aku lepaskan aja ikan sapu – sapu biar
kalinya bersih.” Nah itu tuh sejarah bagaimana ikan sapu – sapu ada di kali
Jakarta, menurut keyakinan saya.
MUI Pantas Bersuara Membela Mujahid Lingkungan
MUI sangat
pantas bersuara dalam hal ini, sebab yang namanya mujahid yang sudah
melakukan pekerjaannya dalam “perang” besar mesti diperlakukan dengan layak.
MUI sebenarnya ingin memberikan apresiasi kepada orang yang pertama kali
melempar benih ikan sapu – sapu itu di kali – kali Jakarta, namun keterbatasan
waktu. Jadilah hanya bermain aman, agar tidak banyak orang yang mengaku – ngaku
agar dinilai sebagai pahlawan lingkungan.
MUI menyadari tugas ikan sapu – sapu yang
terbilang berat. Melakukan hijrah dari Amerika Selatan, dan diberi tugas
membersihkan sungai – sungai Jakarta yang sudah tak pantas lagi disebut sungai
itu. Dari Amerika Latin terbiasa hidup di sungai – sungai Paraguai, Argentina
yang airnya masih bagus, belum lagi terkendala bahasa, iya bisa jadi bahasa
ikan sapu -sapu Uruguay berbeda dengan ikan – ikan di Indonesia. MUI sangat
menyadari tugas yang sangat berat itu.
Bukan hanya itu, kalau di sungai – sungai Amerika
Latin ikan sapu -sapu menyantap lumut – lumut yang kandungan gizinya setara
gizi MBG lalu bekerja di sungai Jakarta mereka malah menyantap, sisa limbah
cucian warga, sampah kopi saset, timbal, dan masih banyak lagi.
Oleh sebab itu, MUI mengkritisi cara pemusnahan
ikan Sapu – sapu yang dinilai kurang memperhatikan adab kehewanan sebenarnya
adalah cara MUI sebagai lembaga agama menghargai ikan yang sedang berjihad.
.png)
Posting Komentar untuk "Ikan Sapu Sapu Adalah Mujahid, Pantas MUI Kritik Pemerintah Provinsi Jakarta "