Alasan Dak Kudak Kabur, Bisa Jadi Lebih Memilih Gaya Hidup Slow Living Daripada Mengurus Pemerintahan yang Rumit
Dak
Kudak memang tidak banyak dibahas dalam cerita sejarah Sanggau. Latar
belakangnya, garis keturunannya, bagaimana postur tubuhnya, hanya disebutkan
kalau beliau ini adalah pasak Sanggau. Kata Pasak mengacu orang asli dari daerah
Sanggau.
Kalau
mengacu pada kata Pasak, maka tidaklah salah penunjukan yang dilakukan oleh Dara
Nante kepada beliau ini. Sebagai orang yang mengerti Sanggau, memang haruslah
orang yang asli mendiami daerah Sanggau. Orang yang memahami rakyat terlebih
yang paham peta wilayah.
Kalau
dilihat dari politik saat ini misalnya, para ketua partai lebih memilih orang asli
untuk memimpin suatu wilayah di pentas pemilu. Bukan tanpa alasan, selain
faktor figur kedaerahan, sosok asli daerah atau putra daerah tentu memberi
dampak signifikan pada elektabilitas
yang berpotensi akan meraih dukungan penuh oleh masyarakat setempat.
Namun
kita tidak bicara tentang politik, pemilu ataupun elektabilitas. Kita bicara soal,
mengapa Dak Kudak lebih memilih pergi meninggalkan pemerintahannya di Sanggau,
dan setelah itu tak tahu siapa lagi yang memimpin Sanggau. Jadi dapat
disimpulkan juga kalau Dak Kudak ini bukanlah sosok yang sangat kompeten dalam
pemerintahan, sebab beliau ini terlalu lemah untuk banyak masalah yang
seharusnya memang harus ditangani oleh seorang kepala daerah. Atau bisa jadi
ada hal lain yang membuat Dak Kudak meninggalkan pemerintahan.
Dak
Kudak lebih memilih gaya hidup slow living
Sekarang
gaya hidup slow living memang lagi ngetrennya, banyak orang kota, pensiunan,
yang setelah bosan hidup di kota yang penuh hiruk pikuk, dan setelah banyaknya
pekerjaan yang harus diselesaikan, maka orang – orang lebih memilih gaya hidup
slow living. Menghindar dari aktivitas yang padat, cepat, dan berisik dan kabur
ke desa yang lebih tenang.
Bisa
jadi Dak Kudak merasa kehidupannya sebagai kepala pemerintahan Sanggau sangat
berat, tekanan kerja sebagai pemimpin suatu kepala daerah yang mengaharuskannya
bisa menyelesaikan segala permasalahan rakyat dinilai sebagai faktor beliau
memilih kabur. Slow living adalah jawaban bagi Dak Kudak yang butuh ketenangan
hidup. Menghilangkan stres yang kuat akibat pekerjaan, arus kehidupan yang
menitik beratkan harus cepat, sigap dan selesai. Pasti membuatnya butuh
ketenangan hidup.
Paradok
kekuasaan
Tidak
bisa dipungkiri tingginya jabatan seseorang berbanding terbalik dengan kedamaian
batin. Banyak para pemimpin saat ini yang sebelum menjabat wajah tampak cerah,
tubuh berisi, tetapi setelah menjabat wajah semakin tirus, tubuh tampak kurus
akibat banyak pikiran.
Dak
Kudak pasti mengalami keadaan ini, awalnya beliau mungkin saja hanya setingkat
kepala suku di daerah Sanggau, lalu dititipkan amanah oleh Dara Nante
membuatnya memiliki tanggung jawab banyak dalam pemerintahan. Semula hanya
mengurus pertikaian kepemilikan ayam, setelah menjabat sebagai pemimpin Sanggau
mengurusi sengketa tanah, misalnya.
Jadi
wajar saja bila Dak Kudak memilih gaya hidup Slow Living untuk melepaskan semua
perkara yang membuat batinnya tidak sedamai dahulu.
Dak
Kudak adalah penganut mindful living sejati
Istana
memang memberikan segalanya, pelayan yang cantik, makanan enak, berjalan dipayung, dan semua
kenyamanan seorang raja. Namun Dak Kudak tampaknya lebih memilih mindful
living, beliau ingin hidup lebih sederhana, tanpa distraksi.
Dak
Kudak tak ingin pikirannya terlalu banyak memikirkan masalah yang sebenarnya
bukanlah masalah dia. Bisa jadi ia sedikit keberatan ketika dipilih oleh Dara
Nante sebagai pemimpin Sanggau waktu itu. Dak Kudak sejatinya hanya ingin
menjadi manusia biasa dengan ketenangan yang leluasa. Makan tanpa protokoler
istana, boleh kapan saja berburu tupai, masih ingin pergi ke sungai Kapuas
untuk memancing ikan, atau sesekali ia juga ingin duduk santai di pondok tengah
ladang. Aktivitas seperti itu adalah dambaan seorang yang menganut paham slow
living. Ia tak mau banyak distraksi dalam kehidupannya, baginya amanah yang
diberikan tadi merupakan beban untuk gaya hidupnya yang bebas.
Banyak
kepala daerah sekarang mulai dari RT sampai Gubernur, sbenarnya mereka itu
berat dalam menjalankan tugasnya, paradok kekuasaan tadi pasti terjadi. Akhirnya
banyak yang berleha – leha dalam pembangunan, lebih mementingkan ketenangan
batin terlebih dahulu sebelum menyelesaikan program – program pembangunan daerah.
Hingga kini kita tak tahu mengapa Dak Kudak sampai melarikan diri ke Semboja dan
meninggalkan pemerintahan Sanggau yang dimanahkan kepadanya.
Pertanyaannya
sekarang, “Jika kita adalah Dak Kudak, beranikah kita meninggalkan 'kerajaan'
kita demi segelas kopi dan keheningan pagi?"

Posting Komentar untuk "Alasan Dak Kudak Kabur, Bisa Jadi Lebih Memilih Gaya Hidup Slow Living Daripada Mengurus Pemerintahan yang Rumit "