Ciri Pentol yang Sudah Pasti Enak untuk Warga Sanggau yang Doyan Jajan
sebab Jawa adalah koenci!
Pentol
atau biasa dikenal dengan cilok sudah menjadi bagian terpenting di dunia
perkulineran tanah air, tak terkecuali bumi Darante, Sanggau. Jajanan sederhana
yang masih berkerabat dengan bakso – baksoan ini bisa dibilang menduduki kasta
tertinggi di dunia jajanan. Untuk warga Sanggau, pentol ngak hanya diminati
oleh kaum muda, namun juga orang dewasa. Mulai dari anak SD sampai para pegawai
Bank.
Pentol
patut menguasai hierarki tertinggi, sebab dari bentuk sederhana yang hanya
bulat, atau terkadang gepeng karena salah cetak, namun memiliki rasa yang dapat
diterima oleh semua kalangan. Belum lagi soal harga, pentol dapat diterima di
semua lapisan masyarakat sebab pentol adalah jajanan yang memiliki jiwa sosial
tinggi, ngak mikir pencitraan seperti Siomay yang banyak polesan namun ngak
bisa dibeli 2000an.
Pentol,
sekali lagi semakin kuat mengokohkan dirinya menjadi jajanan best seller. Namun, tidak semua pentol yang ada di Sanggau
ini enak, tadi saya hanya menjabarkan perbandingan pentol dengan jajanan
lainnya. Tapi, kalau kita tarik lagi kriteria pentol secara khusus, maka ada
ciri – ciri pentol yang enak yang mesti kawan – kawan Sanggau ketahui.
Mamangnya
Asli Jawa
Fiks.
Ngak ada yang akan ngebantah kalau rata – rata penjual pentol adalah suku Jawa.
Entah itu perantau, atau kebetulan lahir di tanah Sanggau. Pentol yang asli
adalah Mamangnya orang Jawa, sebab Jawa adalah koenci!
Bukan
tanpa alasan saya mengatakan demikian, sebab pernah saya dulu beli pentol
dengan mamang penjualnya yang ternyata orang asli Sanggau ternyata pentolnya
ngak enak, hambar, tanpa tekstur dagingnya. Asli, saya trauma. Oleh karena itu
kalau kawan – kawan mau beli pentol pastikan mamangnya bisa bahasa jawa, dan
kalau dia bisa bahasa melayu sanggau pastikan logat jawanya ada.
Pentolnya
kenyal
Sudah
saya bilang di awal, kalau makan pentol yang rasanya lembek, hambar, itu pasti
bukan mamang asli. Sebab pentol yang enak itu memiliki tekstur yang kenyal, ada
rasa gurih – gurihnya, dan masih panas saat dimasukan ke dalam plastik.
Selain
itu perbandingan antara adonan tepung dan dagingnya harus pas. Sebab kalau
terlalu banyak tepung itu yang biasanya membuat kita akan kecewa,” panak aler,
tuk pentol kah, pentol?”
Ada
tusukan bambu sebagai detail yang menandakan niat jualan pentol
Ini
juga hal yang sangat krusial banget. Bukan hanya sebagai pelengkap,
pemanis atau sekedar penglaris. Tusuk bambu yang ada di gerobak pentol
menunjukkan keaslian mamang pentol tersebut. Karena sekali lagi saya pernah
membeli pentol, “mang minta tusukannya,” Mamangnya jawab,” aih mesik bang,” Asli
ini merupakan penyelewengan terhadap
pelayanan publik. Ya iyalah, gerobak pentol yang tidak menyediakan tusukan
menunjukkan kalau penjualnya tidak
serius untuk jualan.
Jenis payung yang digunakan juga menentukan enak tidaknya petol, sebab payung yang tidak konsisten di gerobak mamang menunjukkan kalau si penjual selalu gonta ganti rasa. Hari ini payung hitam, besok kuning, lusa warna - warni. Payung aja diubah - ubah apalagi rasa pentolnya.
Jualan
pakai sepeda
Sepeda
sudah menjadi entitas wajib di dunia perpentolan dan permamangan. Yah, dengan
sepeda kita bisa yakin kalau penjual memang ingin melayani pembeli. Sebab,
sekali lagi sesuai pengalaman saya mamang pentol yang berjualan menggunakan
sepeda motor itu adalah penjual yang ngak asyik, kadang ngebut jadi ngak bisa
dipangil – panggil. Apalagi mamangnya ngak pakai terompet khas mamang itu tapi
menggantikan fungsi klakson motor sebagai jati dirinya sebagai mamang pentol. Ini
akan menimbulkan salah paham besar bila mamang ini masuk perkampungan, sebab
penjual yang biasa memainkan klakson untuk menunjukkan kehadirannya adalah
penjual sayur keliling.
Jadi
jelas, dari segi bagaimana menggaet pembeli, mamang dengan sepeda jelas lebih
enak pelayanannya. Bisa dipredisksi penjual pentol dengan sepeda menganut paham
pelan asal ramai. Ngak kuat mengayuh ia mangkal.
Kasta
pembeli
Bukannya
saya mendiskriminasi jenjang pembeli. Namun, dengan melihat siapa yang membeli
pentol tersebut kita bisa tahu, apakah pentol tersebut layak beli dan layak konsumsi.
Karena bisa jadi pentol itu layak beli, tapi tidak layak konsumsi. Pentol yang banyak
dibeli anak – anak SD dan tidak banyak dibeli orang dewasa itu biasanya ngak
terlalu enak. Namun, jika yang beli ternyata, koko – koko bengkel, teller bank,
atau bahkan polantas yang lupa sarapan, dapat dipastikan kalau pentol tersebut
layak beli dan layak konsumsi.

Posting Komentar untuk "Ciri Pentol yang Sudah Pasti Enak untuk Warga Sanggau yang Doyan Jajan"