Menebak Bacaan Warga Sanggau, Dan Uneg – Uneg yang Tak Tersampaikan
Harus
diakui kalau Sanggau merupakan salah satu kota yang menjadi penyumbang angka
71,26 untuk Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat Provinsi Kalimantan Barat
tahun 2024, data BPS. Sanggau, walaupun tidak terlihat manusia – manusianya
membaca di mana, tapi saya yakin kalau masyarakat Sanggau banyak yang membaca
secara diam – diam di rumahnya. Memang nilai 71,26 itu adalah nilai Kalimantan
Barat secara keseluruhan, untuk melihat tingkat kegemaran Sanggau secara
tunggal saya belum dapat, sampai tulisan ini saya buat.
Entah
apakah paket data saya yang kurang untuk menggali informasi, atau belum
dimuatnya oleh instansi terkait seperti BPS daerah yang lupa memuat data
kegemaran membaca warga Sanggau. Sebab bagi saya, ngak penting juga angka –
angka statistik itu kalau kenyataannya di lapangan warga Sanggau eh ternyata
memang rajin baca buku, baca buku ya bukan baca caption TikTok.
Oleh
karena itu saya mencoba menebak bacaan apa saja yang dibaca oleh warga Sanggau,
khususnya yang berdekatan dengan Kantor
Perpustakaan Daerah yang sangat banyak koleksi bukunya itu.
Pedagang
kaki lima di depan Perpustakaan Daerah Sanggau
Jangan
memandang remeh para pedagang kaki lima yang berjejer sepanjang jalan di depan
Perpustakaan Daerah Sanggau. Entah itu penjual sayur, penjual ikan sungai,
mamang pentol, dan beraneka rempah – rempah itu. Kalau kita bayangkan buku apa
yang akan mereka baca tentu sangat luar biasa kawan.
Para
penjual sayur, mulai dari usia ibu – ibu muda misalnya, mereka bisa jadi akan
meramu buku – buku tentang bagaimana menjual sayur agar cepat laku. Buku – buku
yang bertema jualan, seperti Kiat Laris Jualan Manis, Hebat Jualan Dalam 10
Hari, atau Kecil – kecil Jago Jualan, akan menjadi bacaan utama oleh para ibu –
ibu muda yang berjualan sayur.
Beda
lagi kalau bapak – bapak penjual buah nanas, asam popat, penambal panci, tentu
bacaan mereka lebih ekstrim lagi. Faktor usia dan pengalaman sehingga mutu
bacaan mereka juga ngak receh – receh amat, bisa jadi di sela – sela mengupas
nanas dari Pontianak mereka akan perlahan membaca buku, Pengantar Hukum Dagang,
Promosi Penjualan Ala Pengusaha Sukses, atau tukang tambal panci setelah capek
berkoar – koar beliau akan membaca buku Cara Bodoh Berjualan. Semakin tinggi
kelas, ilmu pemasaran pedagang kaki lima, semakin berbobot bahan bacaan mereka,
dan tentu bacaan mereka ini mereka coba pinjam di Perpustakaan Daerah.
Belum
lagi para penjual lelong, mereka berusaha mencari untung sebesar – besarnya namun
tetap dengan menerapkan cara bagaimana agar tetap jujur dan tidak merugikan
pembeli, oleh karen itu buku seperti, Rahasia Bisnis Rasullullah yang Selalu
Untung akan menjadi bahan bacaan mereka setiap kali usai melipat kain kain
lelong mereka.
Warung
Sarapan Simpera atau Simpang Empat Ampera
Kalau
kalian mengira warga kita Sanggau ini saat sarapan, mereka itu nonton podcast,
alur cerita film, atau review makan enak, ngak! Menurut keyakinan saya, warga
kita itu kalau saat sarapan, mereka sambil baca buku. Misal nih, dekat
perpustakaan daerah kita ada tempat makan simpera, rame tuh setiap pagi. Entah itu
sales, pegawai perpus, satpol PP, semua deh. Pasti sarapan di situ.
Dan
kalau saya boleh menebak buku – buku yang akan dibaca mereka saat sarapan tentu
sangat menarik. Misal satpol PP tengah sarapan bubur pedas, asyik baca buku
tentang Teknik Negosiasi dan Mediasi bagi Polisi Pamong Praja Indonesia. Sambil
nyeruput teh es, mereka baca dengan tenang cara – cara mengelola para PKL. Bisa
jadi ada anggota yang membaca novel Bungkam Suara, atau bisa jadi baca Republik
Jalan Ketiga. Dari buku – buku itu saya yakin, para anggota satpol PP kita
lebih keren di mata rakyat Sanggau.
Jujur
ya kalau pemerintah kita mau buat perda yang aneh dikit tentu menarik. Iya,
misal pemerintah daerah mewajibkan para pelaku usaha seperti tempat sarapan,
warkop, harus menyediakan pojok baca. Sebab, selain menambah isi perut, warga
Sanggau juga terbiasa dengan mengisi otak mereka dengan bacaan yang bermutu.
Taman
Arong’K Belopa
Membaca
di taman merupakan kegiatan yang sangat romantis. Warga Sanggau bisa saja
membaca bacaan ringan saat berada di Taman Arong’k Belopa. Buku – buku romance,
novel, cerpen, komik dapat dibaca di taman kota. Bukan berarti bacaan berat
tidak bisa, seperti buku – buku filsafat, filosofi teras, the compas, misalnya.
Atau bisa juga buku tentang self improvement, pengembangan diri dan sebagainya.
Bisa juga koran – koran lokal atau majalah juga cocok dibaca warga Sanggau bila
berada di taman kota.
Sayangnya
warga kita ini terlihat malu bila harus menenteng buku dari rumah, dan jauh –
jauh harus membaca di taman kota. Yah, kembali lagi ke awal permasalahan bahwa
warga kita banyak yang suka membaca namun hanya di dalam kamar. Kalau pemerintah
daerah memang mau memberikan kebiasaan membaca para generasi muda, atau
semuanyalah, muda, tua, pria, wanita, pemerintah daerah bisa tuh membuat
seperti pojok baca di taman kota. Sediakan buku – buku yang keren. Keren maksud
saya di sini adalah buku – buku yang “viral”, mengapa saya katakan viral. Sebab
kalau kita memajang buku cara berternak lele di pojok baca taman tentu tidak menarik
minat baca. Para instansi terkait boleh tuh lihat – lihat tren bacaan terbaru,
buku apa sih yang banyak dibicarakan di media sosial, BELI, PAJANG, AJAK. Warga
itu ngak mampu beli buku karena mahal, mau ke perpustakaan terkesan kaku. Warga
bisa jadi ingin membaca di tempat yang santai, dengan bacaan yang berbobot.
Maaf
ya, pembahasan saya jadi aneh – aneh. Namun intinya, bisa jadi warga Sanggau
memang banyak yang suka baca buku, namun masih malu dibilang kutu buku.
.png)
Posting Komentar untuk "Menebak Bacaan Warga Sanggau, Dan Uneg – Uneg yang Tak Tersampaikan"