Tiga Kutang untuk Siti
Kucing betina berbulu hitam putih
itu lalu bangkit dari baringnya, lalu menggosokkan badannya ke lutut Rian yang
sedang bersila beberapa kali lantas kemudian, “Meong…meong.”
Seperti tahu makna ucapan Siti
barusan, Rian lantas menimpali.
“Aku tahu Siti, aku tahu. Laporanku
tak akan digubris, bisa jadi aku yang dijadikan tersangka. Aku yang selalu
berhubungan dengan bos tambang. Aku tak punya alibi sekiranya aku dijadikan
tersangka pengalihan perkara.” Jelas Rian mantap.
Siti memeong menutup kegelisahan
Rian. Kucing betina itu lalu menuju
sudut teras ruang parkir yang redup, sekali lompatan ia memasuki kardus usang.
Sesaat terdengar meong-meong kecil yang meronta minta disusui.
***
Gagah seragam, mengilat pangkat ternyata tak bisa memberikan kekuatan
pada Rian. Tak berani menolak, angkat tangan siap, terima perintah siap, dirayu
siap, dibentak siap, disuruh siap. Walaupun hatinya seperti Bung Hatta yang
memiliki keteguhan tak mau memakai uang negara untuk keperluan pribadi,
kenyataannya ia tak dapat menolak semua perintah dari atasannya.
“Kau datang ke terminal siang nanti,
pakai baju biasa saja. Toke sudah janji lokasinya di sana. Kau bawa saja
titipannya, lalu besok temui aku di ruangan
seperti biasa.” Perintah sang atasan.
Buru-buru Rian pergi ke terminal,
membuka seragam Polisinya lalu diganti dengan kaos polos diserasikan dengan
celana pendek, ia langsung mengendarai sepeda motornya ke arah terminal. Tak
peduli siang itu panas, ia pergi.
Sudah berapa kali Rian melakukan
perintah ini, terkadang di terminal, kadang di warung kopi cina, pernah juga di
depan ATM bank, bahkan di depan sekolah juga pernah. Rian tak dapat menolak
perintah atasan, ia selalu angkat tangan siap. Padahal setiap menerima perintah
jantungnya seperti ingin pecah. Paru kanan dan kirinya seperti tak seirama,
napasnya seperti ikan diangkat dari air sungai.
Tak dapat ditolak perintah
atasannya, sebab setelah bertemu, atasannya selalu menyelipkan beberapa lembar
uang ke tangan Rian. Lembaran yang lumayan untuk dirinya yang hanya polisi di
kosan murah.
Rian merasa harga dirinya sebagai
seorang Polisi luntur ketika menerima perintah semacam ini. Rian paham, ia
seharusnya yang menangkap para penambang
emas ilegal, ia Polisi, penegak hukum, dan memang tugasnya seperti itu. Namun,
pekerjaan tak sesimpel itu, ini Indonesia, hanya bawahan. Menjadi ekor, tak
diancam dipecat dan dimutasi ke pelosok saja sudah bersyukur.
Melaporkan atasan jelas tak berani,
membicarakan ke rekan mereka tak peduli, seperti sengaja menutup mata dan main
aman saja. Dan siapa lagi yang akan mendengar keluh kesah Rian kalau bukan si
Siti kucing hitam putih di kosnya itu.
Sepulang kerja Siti sudah terbaring
manja di keset kaki kumal di depan pintu kos Rian. Beberapa kali ia berguling
ke kiri dan ke kanan, sampai kaki Rian mendekat hendak memasukan anak kunci ke
daun pintu, Siti berdiri lantas mengelus-ngelus tubuhnya ke kaki Polisi muda
tersebut dengan manja.
“Tenang Siti, ada cerita lagi hari
ini.”
Selepas mandi sore itu Rian duduk
lagi di teras depan. Menikmati segelas kopi pahit yang sudah mendingin. Di
ujung sudut ruang parkir Rian bisa melihat Siti yang tengah bermain-main dengan
ketiga anaknya. Tampak perut Siti yang sudah menggelambir dengan puting susu
yang sudah mengendur. Rian lalu merenung, bisa jadi akibat susu Siti yang
terlihat mengendur lantas memikat para garong birahi di kompleks ini. Rian
tidak suka Siti kawin lagi selagi anak-anaknya masih kecil.
“Dasar garong sialan, mesum. Kalian
kebagian enaknya saya, anak kalian aku yang tanggung. Kalian berbuat, aku yang
tanggung jawab beli makanan, mahal tau!” Gumam Rian kesal.
Rian lalu pergi ke dalam kamarnya
mengambil perkakas jahit dan sehelai kain usang.
“Lihat saja garong, kalian tak
pernah melihat kucing berkutang, kan?”
Rian lantas memanggil Siti. Mengukur
lingkar tubuhnya, mengatur jarak susunya, lalu ia mulai menjahit sebuah jahitan
kain yang ia sebut kutang kucing itu. Pas atau tidak, suka atau tidak Siti,
Rian terus menjahit, tiga buah kutang yang dibuat Rian untuk Siti. Ada yang
merah, berbahan batik, juga berbahan katun. Bagi Rian itu sudah cukup menarik.
Perlahan Rian mengenakan tiga kutang
itu ke badan Siti yang kurus. Satu demi satu kutang tadi dililitkan dan
berusaha pas untuk menutupi susunya. Siti menggelinjang hebat, Rian lantas
melepas Siti. Dengan mulutnya kucing betina itu berusaha menarik-narik kain
kutang tersebut. Kutang terlepas satu, lalu Siti berjalan payah ke arah kardus
anaknya, tampak beberapa kali Siti menggigit lagi sisa kutang yang masih
menempel.
Setelah melihat perangai Siti yang
tak seindah bayangannya itu, Rian dikagetkan dengan pesan masuk di
handphonenya.
Pak Atasan, terlihat di kontak
pesan.
“Besok di terminal lagi, ambil
titipan.”
Rian mendengus kesal.
.png)
Posting Komentar untuk "Tiga Kutang untuk Siti"