Kuyang Tanah Gambut
Langit malam di tepian kapuas seolah menelan cahaya bulan. Tak ada bintang yang berani menjatuhkan sinarnya di riak-riak gelombang sungai. Hanya angin malam yang tak hentinya beradu dengan dahan-dahan kelapa yang meronta bagai tangan-tangan yang memohon ampun kepada Tuhan.
Saat itu tak ada lagi daun jendela yang berani terbuka. Pintu berpalang kayu, api pelita dijaga satu-satu. Ibu mendekap anak, anak kuat memeluk ibu. Para lelaki memasang mata siap -siap, telinga mendengar cepat. Manusia di kampung Parit Seribu ini sedang menjaga asa, berharap rumah mereka tak dihampiri sosok hantu kepala yang entah sudah beberapa malam ini suka berkeliaran sewaktu malam tiba.
Ada warga yang melihat hantu itu melayang mengelilingi peluncuran atap. Lalu merendah di sela-sela lubang angin. Matanya terlihat melotot, wajah kepala itu pucat, dan tatkala kepala itu terbang perlahan, tampak organ dalam tubuhnya terburai bergelantung menempel di pangkal lehernya.
“Kuyang datang, diam!” perintah suami kepada anak istri.
“Peluk yang kuat, pejam!” pinta ibu kepada anak.
“Ibu takut, ibu takut.” Rengek anak -anak kampung.
Namun, terror itu ternyata bukan hanya pada malam hari di kampung Parit Seribu. Siang harinya para penduduk dihantui sosok berbadan gempal, dengan bidang dada seperti tanah ladang, kancing kemejanya sengaja di buka agar bulu-bulu dadanya yang macam semak resam itu keluar meranggas. Wajahnya macam tanah ladang habis dibakar, hitam, bergelombang, tak rata, hidungnya macam gundukan tanah gambut. Ketika ia melotot, persis mata ikan belida yang ditanak dalam kuali, seperti mau keluar. Sosok itu adalah Ajo Sani, tuan tanah, rata-rata tanah yang ada di kampung Parit Seribu ini adalah miliknya.
Ajo Sani suka memaksa penduduk kampung Parit Seribu menjual tanahnya dengan harga murah. Ia paling suka kalau sudah melihat orang kampung membuka lahan, entah itu ladang padi atau hanya kebun gambut di belakang kampung.
“Tanah setapak kaki gergasi macam ni, jual ke aku jak lah. Kau bisa bikin rumah bagus dari hasil jual tanah kau ni.” Rayu licik Ajo Sani.
“Maaf tuan Sani, kalau tanah ni aku jual, aku nak makan apa?” tolak halus salah satu warga.
“Jangan takut, tanah ni tetap bisa kau olah, tanam ubi, tanam jagung terserah tanam apa. Tapi, tanah ini tetap jadi milik aku, hasil panen kita bagi dua, bagaimana?” rayuan Ajo Sani semakin mantap.
Terpikatlah orang kampung oleh rayu licik Ajo Sani ini.
Namun, tak semua warga bisa dirayu gombal oleh Ajo Sani ini. Adalah Nur Jali seorang pemuda kampung Parit Seribu yang mempunyai keteguhan hati yang kuat. Ia adalah gambaran kokoh akar-akar rimba, tak gampang dibongkar. Bicaranya bagai daun bambu ditiup angin, kalau tak dibuai hembusan ia tak akan berbunyi. Dan kalaupun ditiup angin, bicaranya penuh makna dan enak didengar.
“Tanah ni peninggalan almarhum Apak, di sinilah aku berhidup tuan, biarlah bertanam ubi dan bersiram peluh, aku tak berani menjual tanah ini tuan.”
Dengarlah bahasa pemuda satu ini, santun dan enak didengar. Seandainya rata-rata lelaki Parit Seribu ini berperangai seperti Nur Jali betapa tentramnya kampung ini. Namun, dunia ini tak selebar daun resam, pasti ada manusia angkuh, congkak seperti Ajo Sani.
“Ah kau ni Jali, kalau kau jual tanah ni, gubuk kau yang macam resam mati tu, bisa kau bikin lebih baik. Kau pun masih bisa mengolah tanah ni, kalau kau jual dengan aku.” Rayu licik Ajo Sani lagi.
“Maaf beribu maaf tuan, rumah aku biarkan seperti resam mati. Namun, hati aku tak mau menggadaikan tanah satu -satunya ini hanya untuk rumah baru. Apalah artinya berumah baru, tapi pencaharian tak menentu.” Mantap Nur Jali menjawab.
“Tapi Jali, apakah kau dah dengar berita pasal hantu Kuyang, kampung kita ni dah tak aman, banyak orang kampung yang menjual tanahnya ke aku mereka lalu membeli tanah di pesisir Kapuas, kata mereka hantu Kuyang takut angin Kapuas.” Rayu licik Ajo Sani lagi.
“Ah tuan, hantu tak dapat menghapus rezeki.” Bantah Nur Jali mantap.
Memang sudah hukum dunia, di mana ada kemungkaran pasti akan dibalas dengan kebaikan. Malam itu seperti biasa, tak ada daun jendela penduduk kampung Parit Seribu yang berani terbuka. Daun pintu dipalang kayu, api pelita dijaga ketat. Angin malam mulai menusuk di sela-sela papan rumah warga.
Namun, tidak dengan gubuk Nur Jali. Jendela sengaja tak bertutup, daun pintu dibuka lebar. Hawa dingin menyerang hebat. Daun-daun meranti bergoyang cepat, pelepah kelapa bersorak riuh. Malam bukan hanya gelap semata, namun buas mengantar bahaya.
Nur Jali menatap kelap cahaya bintang-bintang di langit. Menikmati cahaya bulan, “setelah siang tak nikmat, mengapa malam pun terasa dimangsa?” Pemuda kampung satu ini merasa ia harus bertindak, tak boleh jadi ayam sayur di tanah kelahiran sendiri. Miskin bukan berarti lemah, martabat diri harus dibela. Ia sangat ingin sekali menolong orang – orang kampung, ia kasian dengan penindasan Ajo Sani yang memaksa warga menjual tanah mereka.
Nur Jali sengaja keluar rumah, melihat malam yang pekat. Ia tahu bahaya dari hantu Kuyang yang beberapa hari ini menggila di kampungnya.
“Kalau hanya diam, dengan ketakutan malam macam ni, tentu tak dapat melihat bulan.” Gumam Nur Jali lantas tersenyum.
Nur Jali keluar rumah, dengan membawa kentongan bambu yang sengaja dibawanya untuk berburu hantu Kuyang. Dirinya tak mau dikekang, oleh malam, oleh hantu Kuyang, oleh siang, oleh Ajo Sani tuan tanah sialan.
Kaki pemuda itu perlahan menapak jalan kampung Parit Seribu. Setapak demi setapak, matanya sigap dengan pergerakan, telinganya kuat dipasang untuk mendengar suara-suara malam.
Entah berapa langkah sudah kaki menapak, sudah berapa kalikah jangkrik mengubah nada. Nur Jali terdiam sesaat, bola matanya yang tajam melihat sekelebat benda melayang di bawah peluncuran atap rumah warga. Nur Jali semakin waspada, ia mempercepat tapak kakinya. Sementara matanya berusaha mencari benda melayang tadi. Sudut matanya kini tertuju ke pucuk kelapa yang meranggas, tampak makhluk itu melayang naik turun. Tempias cahaya bulan memang sedikit membantu Nur Jali mengamati hantu Kuyang itu.
“Kuyang…Kuyang!” Nur Jali lantas teriak sambil memukul kentongan bambu di tangannya.
Tak ada rumah yang berani membuka jendela. Malah cahaya pelita di rumah-rumah tampak meredup tatkala mendengar teriakan Nur Jali.
Nur Jali terus mengejar hantu Kuyang yang tampak melarikan diri itu. Ia harus sigap, cepat. Menyelaraskan antara tapak kakinya yang berlari dengan tetap mempertahankan pandangan ke arah melayangnya hantu tentu sangatlah sulit. Belum lagi ia terus memukul kentongan, sebab semakin ia berisik teriak dan memukul, hantu itu seperti panik, melayang tak tentu arah.
Hantu Kuyang ternyata memang lincah, Nur Jali dibuat kerepotan oleh hantu itu. Di atas sana hantu bisa meliuk-liuk menangkis tandan kelapa, pucuk nipah, lalu menerobos rimbun daun pisang. Sebaliknya, di bawah sini Nur Jali harus lebih gesit, kalau mata kakinya bisa melihat maka pasti aman ia dari tunggul-tunggul kayu di tanah kampung, namun mata kaki tak dapat menatap Nur Jali beberapa kali harus jatuh bangun, bangun lagi mendongak ke atas mencari hantu melayang, sesekali kepalanya membentur tiang jemuran.
Tahu-tahu ia sudah ada di ujung kampung Parit Seribu. Tepat di depan rumah besar megah dengan lampu-lampu minyak besar menyala. Sosok hantu Kuyang itu raib bak ditelan malam.
“Aneh, ke mana larinya hantu sialan tu.” Gumam Nur Jali sambil mengatur napasnya.
Karena lelah tak mendapatkan hasil, Nur Jali akhirnya memilih pulang. Tanpa ia ketahui, sesosok mata manusia menatap tajam ke arahnya dari balik jendela rumah besar itu.
***
Seperti tak mau kalah Nur Jali lalu pergi menemui beberapa orang kampung keesokan paginya.
“Pak wa, Pak teh, Pak ngah. Tolong jangan takut berlebihan, hantu Kuyang tu sebenarnya takut dengan kita manusia. Kalau kita lawan setan akan kalah!”
Setelah mendengarkan cerita Nur Jali yang berjibaku dengan pengejaran hantu Kuyang semalam, beberapa lelaki kampung Parit Seribu pun akhirnya mulai sadar dan memberanikan diri ikut Nur Jali menangkap hantu Kuyang tersebut.
“Lalu bagaimana kita nak tangkap Li?”
“Iya, hantu tu melayang macam burung hantu, sedangkan kita tak pandai melayang?”
Tanya orang kampung yang masih bingung dengan rancana Nur Jali.
“Jadi begini…”
Tampak Nur Jali perlahan mendiskusikan rencananya kepada beberapa lelaki kampung. Ada yang mengangguk mantap, ada yang menaikkan alis masih ragu, ada juga yang tampak bahagia karena sudah membayangkan jikalau rencana mereka itu berhasil kelaknya.
Di tengah hangatnya diskusi mereka datanglah Ajo Sani seperti ombak yang tetiba menghantam karang.
“Woi Pak Teh, mana bagi hasil kau bulan ni. Sepeserpun tak kau setor. Amboi, tampak juga batang hidung kau Pak Wa, orang tua bangka tak tau diri, tanah sejumput tahi ayam, hanya bertanam peringgi masih bisa bersantai di sini, mana setoranmu?!”
“Ampun tuan Ajo, bulan ni hanya cukup untuk makan, tunggulah panen bulan depan, aku bayar untuk dua kali.” Melas Pak Teh.
“Ah, alasan kau selalu macam tu tiap bulan. Aku kau suruh menunggu sungai tak berhulu. Aku Sani, pantang menunggu!” muntab Ajo Sani.
Warga kampung yang hangat berdiskusi tadi lalu tetiba merasakan panas api neraka.
“Kau macam mana Pak Wa, sudah tiga bulan kau tak bayar, kalau kau tak bayar rumah kau sekarang jadi milik aku.” Ancam Ajo Sani sambil menarik kerah baju Pak Wa.
Melihat Ajo Sani yang sudah kelewatan Nur Jali memberanikan diri menjadi penegah.
“Tuan, jangan lah na’ main kasar dengan sesama, jangan memaksa mereka, sebab mereka juga ada keluarga yang ingin ditanggung. Beri mereka kesempatan dan kelonggaran tuk bayar setoran tuan.” Saran Nur Jali pelan.
Ajo Sani lalu menatap wajah Nur Jali dekat. Mata setentang mata, hidung bertemu ujung, dahi selebar sama. Bulu dadanya mekar meranggas ingin mengganas.
“Kau anak muda ingusan, masih bau perampis tilam, pesing. Belum sepadan kau ni Jali tuk nasehatkan aku.” Ujar Ajo Sani.
Nur Jali tak merespon. Ia mundur perlahan menghampiri para lelaki kampung tadi.
“Kalian semua awas! Tak mau bayar, kalian akan celaka.” Telunjuk besar tangan Ajo Sani mengarah ke arah mereka semua.
***
Setelah melewati terror di siang hari oleh lelaki biadap macam Ajo Sani. Malam harinya warga kampung Parit Seribu harus menghadapi terror hantu Kuyang lagi. Rumah-rumah kembali tertutup rapat, api pelita dijaga ketat.
Namun, di tanah lapang tak jauh dari gubuk Nur Jali beberapa lelaki kampung sudah berkumpul membawa obor, kentongan, dan ketapel. Mereka mantap ingin berburu hantu Kuyang malam ini. Setelah melakukan sedikit diskusi dan berdoa pada tuhan, kelompok itu lalu berpatroli keliling wilayah kampung Parit Seribu.
Malam semakin larut, para tupai sudah tidur di lubang dahan. Jangkrik sudah mulai bernyanyi syahdu di semak rumput kampung. Angin malam semakin menusuk, embun juga terasa semakin pekat, terlihat jelas daun-daun keladi menangkap embun dengan senyap.
Sudah memasuki setengah malam, namun belum ada tanda-tanda kemunculan hantu Kuyang. Perasaan warga yang ikut Nur Jali patroli malam bercampur aduk, antara senang kalau malam ini terasa aman, namun sedikit kecewa karena mereka belum bisa menangkap hantu Kuyang malam ini.
Bagaikan lapar bertemu makan, haus bertemu air, dan kantuk bertemu tilam. Tiba-tiba saja.
“Kuyang…hantu..Kuyang!”
Teriakan keras wanita dari salah satu rumah warga. Nur Jali terperanjat dari rehatnya. Para lelaki yang ikut denganya pun berdiri wasapa. Tanpa komando dari Nur Jali mereka semua bergegas menuju rumah tadi.
Terlihatlah oleh mereka semua, hantu Kuyang tadi melayang di bawah peluncuran atap. Lalu melayang lagi di atas lubang angin.
“Kuyang sialan!” gusar salah satu lelaki.
“Tenang Pak Teh, kita atur strategi seperti tadi siang. Jangan gegabah, sebab hantu tu melayang, cepat larinya.” Sergah Nur Jali.
Hantu Kuyang itu tampak ingin sekali masuk ke dalam rumah warga. Terdengar juga teriakan dari orang dalam rumah. Api pelita padam, tak ada cahaya, yang ada hanya teriakan, sebab hantu Kuyang seperti mengetok-ngetok lubang angin.
Karena tak tahan lagi dengan kegilaan ini, Nur Jali lantas memberi aba-aba dan mereka kompak menyusun formasi untuk mengepung hantu Kuyang itu. Kentongan bambu pun dibunyikan, api obor dijaga agar tak padam, mereka teriak, “kuyang…kuyang..kuyang.”
Mendengar warga yang dipimpin Nur Jali, hantu Kuyang tersebut lalu lari melayang, namun belum jauh salah satu warga yang membawa ketapel berhasil mengenai hantu Kuyang tersebut. Menukik, terjun, jatuh hantu Kuyang. Nur Jali dan warga begegas menyusul, mereka mengepung hantu tersebut. Namun, entah kekuatan apa yang mempengaruhi sosok hantu itu lalu terbang lagi melayang ia macam anak burung baru balajar terbang. Mungkin karena kena peluru ketapel tadi, hantu tadi terbang tak menentu.
Di temaram cahaya bulan, Nur Jali tersenyum. Ia lalu memberi komando lain ke warga, mereka sepertinya sengaja menyuruh hantu Kuyang itu terbang kembali. Lalu dengan formasi yang sudah dibentuk hantu Kuyang itu ternyata sengaja mereka kawal untuk menuju kebun nanas milik Nur Jali di ujung kampung.
Sesampai di kebun nanas milik Nur Jali, kecepatan terbang hantu Kuyang semakin melemah. Hal itu tak disia-siakan oleh warga untuk menembak dengan ketapel. Satu ketapel salah, dua ketapel meleset, ketiga ketapel hampir. Lalu Nur Jali meminjam ketapel milik Pak Teh, entah doa apa yang dibacakan oleh Nur Jali sebelum merentangkan karet ketapel, dengan satu peluru saja hantu Kuyang langsung menukik, jatuh, terhempas di lahan kebun nanas milik Nur Jali.
Warga berbondong-bondong menangkap sosok hantu yang sudah tak bisa berdaya terperangkap duri-duri nanas tadi. Dengan pencahayaan api obor yang banyak, dan cahaya bulan yang semakin terang, warga kampung Parit Seribu malam ini seperti tak percaya melihat sosok hantu Kuyang yang terperangkap duri nanas itu ternyata adalah Ajo Sani.
Di hamparan kebun nanas yang diselimuti suasana malam ini Nur Jali dan warga kampung berharap tak ada lagi terror di siang hari yang merampas hak milik warga kampung, juga tak ada lagi malam yang mencekam oleh sosok hantu Kuyang
. Warga kampung Parit Seribu kini bisa hidup dengan aman.

Posting Komentar untuk "Kuyang Tanah Gambut"